365 hari, mereka bilang yang mati sudah semestinya tetap mati.

Amigdala.
2 min readMar 25, 2023

Di rumah yang mati-matian kita bangun bersama hingga pagi buta, aku jadi yang pertama angkat kaki dari sana. Aku jadi yang pertama putuskan pergi padahal kamu bilang masih banyak cerita yang belum temui penghujungnya. Katamu masih banyak tempat-tempat yang belum dikunjungi berdua. Pun, katamu, dari sekian puluh film yang kita susun daftarnya, masih banyak yang belum diselesaikan sama-sama.

Tiga ratus enam puluh lima hari yang kata mereka jadi waktu paling dinanti, rasa-rasanya aku masih mau lari. Masih mau kejar apa yang seharusnya tak pernah ditinggal tempo hari. Masih mau susun kembali daftar putar yang kurangkai buatmu tepat pukul dua pagi.

Tiga ratus enam puluh lima hari dan aku masih hidup di antara harap doa dan sesal yang tak kunjung temui muaranya, cari puing-puing yang tersisa berikut semoga-semoga barangkali masih kutemukan presensimu di sana.

Tiga ratus enam puluh lima hari yang bodohnya kukira tak akan lama rupanya malah buatku total mati rasa.

Satu tahun, Sayang, dan sakitnya kian menusuk tulang.

Bohong kalau aku enggan pulang. Bohong kalau aku tak mau kembali ke tiga ratus enam puluh lima hari lalu kemudian tutup semua pintu agar tak ada lagi yang bisa lari.

Aku mau pulang, oleh sebab itu sekali lagi kucoba tawari kamu kunci berharap masih mau kunjungi rumah yang sudah menahun dibiarkan tak berpenghuni. Katamu mau jalan kaki sebab tak bisa lagi lari, maka kutuntun dengan hati-hati, kutunjukkan ke mana arahnya sebab kulihat kamu mulai asing dengan jalan yang masih kuhafal betul di luar kepala.

Sayangnya, kamu pilih berhenti di tengah jalan. Kaubilang kakimu tak lagi sanggup tumpu tubuh untuk berjalan. Sempat kutawari untuk istirahat barang sejenak tapi kautolak, berdalih tak akan sampai tujuan sebab mengingat satu langkah saja kamu enggan.

Di tengah perjalanan yang bahkan belum benar-benar di pertengahan itu buatku sadar kalau rupanya kamu memang tak mau lagi diajak kembali. Kamu maunya rumah itu tetap dibiarkan kosong tak berpenghuni. Kamu maunya jalanan itu tetap asing seperti bulan-bulan sebelumnya sejak terakhir kali kita lewati.

Satu tahun dan aku masih hidup meski setengahnya sudah lama mati digerogoti luka yang rupanya tak pernah benar-benar sembuh barang satu inci. Aku juga mau lupa, sepertimu, aku juga mau kembali hidup sepenuhnya.

Tapi, kalau ternyata satu tahun belum bisa, pun kalau di pemberhentian selanjutnya masih belum mau lupa, di pertemuan berikutnya harus sudah bisa, ya?

Sebab sudah tiga ratus enam puluh lima hari. Sudah waktunya yang lari dipaksa kembali. Sudah seharusnya yang hilang berhenti dicari.

Sudah semestinya yang mati dibiarkan tetap mati.

--

--

Amigdala.

Each of my writings speaks. Silence interprets it.